SAUDARA KAMI DI HONGKONG..

See on Scoop.itelisatangkearung

ELISA TANGKEARUNG‘s insight:

Kepada elisa,

Mungkin Anda telah membaca berita tentang pengalaman buruk yang dialami oleh Erwiana, pekerja rumah tangga migran Indonesia yang bekerja di Hongkong. Sebelum bekerja di Hongkong, Erwiana adalah gadis yang periang dan tentu saja keinginannya untuk bekerja di luar negeri adalah demi meningkatkan kesejahteraannya serta melanjutkan pendidikan ke universitas. Bukan untuk diperlakukan semena-mena seperti budak.

Erwiana baru bekerja sekitar 8 bulan, namun kini Ia terbaring sakit dengan luka serius di kepala dan sekujur tubuhnya. Menurut pengakuannya, hampir setiap hari Ia mengalami penyiksaan fisik dan psikis dari majikannya hingga menyebabkan tubuhnya mengalami luka-luka yang parah. Ketika Erwiana melaporkan perlakuan buruk yang diterimanya ke agen perekrut tenaga kerjanya, mereka malah mengancam Erwiana dan memaksanya bekerja kembali ke majikan yang suka menyiksanya.

Erwiana adalah satu dari sekian banyak pekerja rumah tangga migran Indonesia yang rentan terhadap praktek perbudakan dan eksploitasi di Hongkong saat ini.

Untuk mengakhiri cerita-cerita duka seperti yang dialami oleh Erwiana, mari kita mendorong  Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk mengakhiri praktek perbudakan modern terhadap pekerja rumah tangga migran Indonesia di Hongkong.

Penghapusan kebijakan yang bersifat memaksa ini akan menjadi langkah konkrit untuk mengakhiri praktek perbudakan modern yang dialami pekerja rumah tangga migran Indonesia yang bekerja di Hongkong. Selama ini pemerintah Indonesia (melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 4 Tahun 2013 tentang Tata Cara Perjanjian Kerja  pada Pengguna Perseorangan) masih tetap memaksa pekerja migran Indonesia di Hongkong yang ingin memperbaharui kontrak untuk membayar uang sebesar Rp. 15.000.000 – Rp. 20.000.000 kepada agen perekrut, padahal dalam sistem hukum di Hongkong, pekerja migran dibebaskan dari segala biaya untuk memperbaharui kontrak. Meskipun demikian, pemerintah Hongkong tetap membiarkan kondisi buruk tersebut tetap terjadi tanpa adanya pengambilan tindakan hukum apapun.

Penganiayaan demi penganiayaan terus dialami oleh Erwiana hingga kemudian Ia tidak mampu lagi bekerja dan majikannya memaksanya pulang ke Indonesia tanpa pembayaran gaji. Bahkan pada saat Erwiana akan dipulangkan ke Indonesia, majikannya memaksa Erwiana untuk mengenakan pakaian setebal enam lapis untuk menutupi badannya yang kurus dan penuh luka. Majikannya juga memaksa Erwiana untuk menggunakan penutup kepala.

Penderitaan Erwiana terungkap ketika teman seperjalanan pulang yang baru dikenalnya di pesawat mengetahui kondisi mengerikan yang diderita oleh Erwiana. Teman seperjalanannya itulah yang kemudian meminta Erwiana membuka kasus ini dan segera membawa Erwiana untuk dirawat di rumah sakit setelah mereka mendarat di Bandara Adisumarmo, Solo. Saat ini, Erwiana dirawat di rumah sakit Islam Amal Sehat di Sragen. Menurut dokter yang merawatnya, Erwiana mengalami pembengkakan otak akibat benturan keras bertubi-tubi pada kepalanya. Luka-luka lainnya di sekujur tubuh juga masih belum sembuh secara total. Berat badan Erwiana saat berangkat ke Hongkong adalah sekitar 50 kg, namun kini berat badan Erwiana menyusut separuhnya yaitu hanya sekitar 25 kg.

Gambaran penderitaan yang dialami oleh Erwiana adalah fakta bahwa praktek perbudakan modern masih dialami oleh pekerja rumah tangga migran Indonesia yang berada di Hongkong. Padahal selama ini, kondisi buruh migran di Hongkong dianggap lebih ideal dibanding negara-negara lainnya. Berbagai pihak menyatakan bahwa, Hongkong memiliki mekanisme perlindungan pekerja migran yang relatif baik namun, dalam kenyataannya masih sering terjadi tindak kekerasan fisik dan seksual serta praktek-praktek perbudakan modern yang dialami oleh pekerja rumah tangga migran Indonesia dan juga dari negara lain.

Untuk itu mari kita mendesak agar pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menghapus kebijakan yang mewajibkan pekerja rumah tangga migran Indonesia untuk membayar biaya pembaruan kontrak kerja ke agen perekrutan tenaga kerja dan memberikan kebebas bagi pekerja rumah tangga migran Indonesia di Hongkong untuk dapat melakukan kontrak mandiri.

Anda dapat membantu petisi ini untuk menang dengan meminta teman-teman Anda menandatanganinya! Teruskan dan sebarluaskan email ini kepada teman-teman Anda.

 

Salam,

Nithin, Wahyu, Migrant Care, dan tim Walk Free

Walk Free is a movement of people everyw

Advertisements

About elisatangkearung

Nothing,..Just Thank YOU to make me YOUR BELOVED SON..Thank YOU FATHER in HEAVEN!
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s